Antara Syiah Kuala dan Syi'ah

by - December 17, 2016


"Apalah arti sebuah nama.."
Kita sering mendengar kutipan tersebut diulang-ulang ketika dilayangkan pertanyaan, "Apa makna nama kamu?" Ternyata arti sebuah nama memang sangat berpengaruh pada pemiliknya. Ibnul Qayyim dalam bukunya Zadul Ma'ad menuliskan bahwa Rasulullah tidak menyukai nama tempat yang diingkari dan tidak ingin melewati tempat itu. Pernah suatu hari Rasulullah hendak melewati jalan yang diapit dua bukit. Ketika beliau bertanya mereka menjawab, "Namanya Fadih dan Mukhzi." Nama pertama berarti ternoda dan yang kedua memalukan. Rasulullah pun tidak ingin melewatinya dan memilih jalan lain. 
"Sesuatu yang dinamai mempunyai keterkaitan dan kedekatan, seperti pembungkus dan isinya, jiwa dan raga. Nama yang bersangkutan tidak jauh dari perkiraan adanya keterkaitan antara namanya dan keadaannya." Ibnul Qayyim Al Jauziyah
Saya teringat pernah mendengar sebuah kisah, suatu ketika Umar bin Khatab bertanya kepada seseorang, "Siapa namamu?" ia menjawab, "Jamrah (Api Membara). "Anak siapa?" lanjut Umar. "Anak Syihab (Cahaya Api)" balasnya. "Dari kabilah mana?" tanya Umar. "Dari Hirqoh (Terbakar)." jawabnya mantap. Umar kembali bertanya, "Di mana tinggalmu?" dia menjawab, "Di Bahratun Nar (Lautan Api)." Terakhir umar bertanya, "Di daerah mana?" dan dia menjawab, "Dzatil Ladha (Mempunyai Nyala yang Bergejolak). Umar pun berkata padanya, "Pulanglah dan temui keluargamu niscaya kau dapati mereka telah hancur binasa dan terbakar." Ternyata terjadilah seperti yang dikatakan. Kisah tersebut dapat kita jadikan pelajaran bahwa pada hakikatnya nama adalah doa yang kita panjatkan untuk sipemiliknya. Ini lebih dari sekedar ungkapan perkataan adalah doa, dimana kita tahu bahwa nama adalah hal tersering yang kita ucapkan. Masih rela memberi nama dengan makna yang merugikan?

Baiklah pada tulisan kali ini saya ingin membahas tentang pengalaman saat menjadi mahasiswa baru dan melewati serentetan orientasi kampus beberapa tahun lalu. Saat itu kami menyanyikan Mars Universitas dan masih memakai nama Syiah Kuala (hingga sekarang ternyata nama itu masih digunakan). Bagi kami masyarakat asli setempat tidak ada yang janggal dari nama itu. Bahkan walaupun sebagai orang yang baru menginjakkan kaki di universitas tersebut, tanpa tahu asal usulnya pun, tidak terbesit pikiran aneh tentang nama "Syiah Kuala". Kemudian tidak lama berselang, seorang teman yang berasal dari luar kota bertanya kepada saya, "Syiah Kuala itu universitas syi'ah, ya?" Saya sempat kaget mendapat pertanyaan demikian. Tidak bermodal informasi apapun, pun mencari tahu sejarah Syiah Kuala. Ternyata tidak hanya saya yang menerima pertanyaan yang demikian. Beberapa media online lokal sudah mengangkat opini tentang hubungan antara Syiah dan Syi'ah.

Syiah, dilatar belakangi oleh sosok intelektual Aceh, Abdur Al Rauf As-Singkili. Anak dari seorang Alim, yang juga mendirikan sebuah madrasah dan yang menarik murid-murid beliau berasal dari berbagai tempat di wilayah kesultanan AcehLebih jelas sejarah tentang beliau bisa ditelusuri di berbagai buku maupun artikel online.

Universitas Syiah Kuala, disingkat Unsyiah, adalah perguruan tinggi negeri yang berdiri pada 2 September 1961. Universitas ini terletak di Banda Aceh, tepatnya di Kota Pelajar dan Mahasiswa (disingkat Kopelma) Darussalam. Syiah Kuala, yang namanya ditabalkan pada perguruan tinggi negeri di Serambi Mekkah ini, diambil dari nama Tengku Abdur Rauf As-Singkili tersebut, dimana beliau terkenal baik di bidang ilmu hukum maupun keagamaan.

Dari sedikit uraian di atas dapat kita garis bawahi bahwa Syiah Kuala dan Syi’ah (aliran teologi islam) tidak memiliki hubungaan spesifik, terutama dalam konteks perguruan tinggi. Lafaz syiah sendiri berasal dari kata syeikh yang mengalami afiliasi dengan lahjah setempat. Sedangkan Kuala, merupakan lokasi makam beliau yang letaknya dekat muara sungai Aceh, sebab inilah beliau memperoleh nama anumerta Syiah Kuala atau Tengku di Kula (Denys Lombard; 2007).

Maka Tengku Abdur Rauf adalah tokoh pendidikan yang namanya diabadikan pada sebuah universitas. Begitulah hakikatnya perlu diketahui, bahwa nama berkaitan dengan yang dinamainya. Pada akhirnya isu atau rencana perubahan nama syiah kuala itu pun berakhir dengan keputusan rektor untuk tetap menggunakan nama Syiah Kuala yang sudah lebih dulu melekat dalam benak masyarakat Aceh.

wallahua'lam bishawab.

source : wikipedia, kompasiana

You May Also Like

0 komentar

Tulis saran dan komentarmu.